Alive (2020), antara Bertahan atau Menyerah

by - November 23, 2020


 

Judul                : Alive

Genre               : Horror/Thriller

Release            : 2020

Actor                 : Park Shin-hye, Yoo Ah-in

Director             : Cho I;-hyung

Duration            : 90 minutes

 

Seorang gamer, Oh Joon-woo, yang terbangun seperti biasa di apartemennya. Ia tinggal dengan kedua orangtuanya dan saudara perempuannya. Saat akan memulai bermain game dengan teman-temannya, ia melihat berita yang aneh di tv. Kegaduhan terjadi di jalanan. Dari balkon apartemennya, ia panik melihat orang-orang saling menyerang bahkan lebih brutalnya lagi mereka saling memangsa. Kanibalisme terjadi di kotanya. 


Joon-woo berusaha menghubungi keluarganya yang sedang keluar berbelanja. Sayangnya keadaan kota sedang tak terkendali. Sinyal telepon tidak ada dan internet mengalami gangguan. Ia terjebak di apartemennya seorang diri. Dalam keadaan ketakutan dengan kondisi kota, Joon-woo pun menutup pintunya rapat-rapat untuk melindungi diri. Sayangnya, saat ia mengintip kegaduhan di depan pintunya seseorang berhasil masuk. Tetangganya yang sedang melarikan diri dari serangan kakaknya yang telah terinfeksi. 


Meski mengaku tidak terinfeksi, Joon-woo tetap was-was dengan tetangganya. Ia hanya mengijinkannya memakai kamar mandi lalu ia menyuruhnya keluar. Tanpa disangka, ternyata sebelum tetangganya sempat keluar, ia sudah berubah menjadi zombie terlebih dulu. Dengan segala upaya, Joon-woo akhirnya mampu mengusir zombie tersebut dan kembali menutup pintunya rapat-rapat. 


Read: Peninsula, Film Zombie atau Fast and Furious?


Suatu hari Joon-woo mendapatkan pesan suara dari keluarganya. Ia bersyukur keluarganya baik-baik saja. Mereka meminta Joon-woo bertahan. Kata-kata itulah yang menguatkannya setiap hari. Hingga sudah memasuki hari ke-20, persediaan makanannya mulai menipis. Joon-woo pun terpaksa meminum persediaan minuman ayahnya. Hingga ia berhalusinasi keluarganya pulang ke rumah dan mereka dapat berkumpul dengan bahagia. Hal ini tentu membuatnya semakin sedih.


Dihinghapi perasaan kesepian dan ketakutan, Joon-woo pun depresi. Tali ia kuatkan pada langit-langit dan ia bersiap gantung diri. Hitungan ketiga ia menanggalkan kursinya. Tiba-tiba cahaya pointer merah mengusiknya. Ia mengikuti arahnya yang membentuk tulisan "Bodoh". Ia pun berusaha menggagalkan niatnya dan mencari tahu sumber pointer stersebut.


Joon-woo merasa senang bukan main menemukan teman. Ia seorang gadis di sebrang apartemennya, Yoo-bin. Mereka pun saling bertukar makanan dan berbincang melalui walkie talkie yang diambil Joon-woo dari kamar tetangganya. 


Saat keadaan semakin tidak menentu, mereka berdua memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang lebih aman. Sayangnya, perkiraan mereka salah dan malah terjebak di sebuah apartemen dengan seorang lelaki. Ia memiliki banyak persediaan makanan. Ia mengatakan akan ada bantuan yang datang segera. Mereka berdua pun terharu bahagia karena akhirnya dapat terlepas dari para zombie. 


Joon-woo dan Yoo-bin pun makan dengan penuh rasa bahagia. Tanpa disangka, ternyata lelaki tersebut memasukkan obat tidur dalam makanan mereka. Lelaki tersebut membawa Yoo-bin yang setengah sadar masuk ke dalam ruangan dan menguncinya. Hal yang tak diduga terjadi. Ada zombie di dalam ruangan tersebut. Ternyata lelaki pemilik apartemen ini menyembunyikan isyrinya yang telah menjadi zombie di dalam ruangan. Lelaki itu menjadikan Yoo-bin sebagai makanan istrinya. 


Untungnya Joon-woo segera tersadarkan dan menolong Yoo-bin. Yoo-bin terselamatkan sedangkani lelaki pemilik apartemen tersebut jadi makanan istrinya sendiri. Merasa tertipu Yoo-bin pun lelah dan putus asa. Ia meminta Joon-woo untuk menembaknya. Daripada menjadi mangsa zombie, ia lebih memilih untuk ditembak mati. Pistol sudah berada di tangan Joon-woo. Meski ia tak tega, Yoo-bin bersikeras untuk meminta Yoo-bin menembaknya. Saat Joon-woo akan melepaskan tembakan, terdengar suara helikopter bantuan. 





Joon-woo dan Yoo-bin berlari melewati para zombie dan menuju atap apartemen. Saat sudah berada di atap, mereka tak menemukan helikopter. Mereka telah pergi menjauh. Mereka berdua datang terlambat. Mereka berdua pun pasrah di tepi atap. Membayangkan akan menjadi mangsa zombie yang mulai merusak pintu  dan mendekat. Di saat itulah helikopter bantuan datang. Mereka pun terselamatkan. 


***


Woaahhh! Setelah nonton perzombian duniawi, Train to Busan and lanjut Peninsula dan lanjut nonton iniiiii saya rasanya sudah terbiasa dengan wajah-wajah zombie hehe. Jujur, saya sebelumnya jijik banget sama zombie. Meski yaaa mending zombie daripada harus nonton film horror yang hantu. 


Meski nggak seseru Peninsula yang ada adegan balapannya, Alive punya cerita sendiri yang menegangkan. Scene yang memperlihatkan tokoh Joon-woo yang seolah-olah jadi manusia normal satu-satunya yang ada di kota emang bikin depresi. Saya nggak kebayang aja sih kalau jadi dia. Udah stok makanan menipis, nggak ada sinyal telpon dan internet, nggak tahu kabar keluarga pula. Hopeless banget pokoknya 😢


Kehadiran tokoh si lelaki jahat ini juga unpredictable banget sih. Meski awalnya sempat dicurigai dan membuktikan diri kalau doi orang baik-baik, plot twist bangeeettt. Dan saya sempat terbawa suasana waktu si lelaki itu minta maaf ke Yoo-bin karena jadiin dia makanan buat istrinya. Kok ya bisaa ada orang kayak gitu. Udah jelas istrinya itu ‘udah nggak ada’ tapi masih aja di lindungi bahkan mengorbankan manusia normal 😤 


Beberapa scene juga bikin saya ikutan sedih. Waktu Joon-woo mau gantung diri itu emang nggak kebayang aja sih. Trus scene terakhiiiirrrrr paling greget. Udah mereka berdua berjuang mati-matian buat sampai atap eh nggak ada dong helikopternya. Aku jadi mereka sih udah lemes duluan sebelum di kepung para zombie. Tapiii, untungnya ajaaa helikopternya beneran adaaa ❣️


Film ini rekomen sih buat kalian yang suka film tegang dan dibikin gemes sendiri. Eh, tapi ada satu hal yang bikin saya penasaran. Kira-kira itu para cameo zombie gimana ya actingnya? Peralihan dari manusia normal ke zombie itu kan badannya kayak melintir-melintir gituuu. Apakah para zombie itu dancer? Apakah ada yang penasaran juga? Atau kalian ada yang punya pencerahan?



You May Also Like

4 comments

  1. Film zombie yang ini emang termasuk beda sih, apalagi karena cuma fokus di komplek apartemen doang ya Mba. Meskipun banyak yang banding2in dengan Train to Busan tapi aku tetep suka dengan film ini. Keliatan banget soalnya cara survival dengan segala keterbatasan makanan, listrik dan air. Cuma emang tetap pertanyaan utama tuh muncul darimana ya zombie-zombie ini hmmm 🤔

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya tegangnya kerasa banget sih yg ini buatku hehe
      nah, iya beenr banget. di film ini ga dijelasin asal muasal zombie-zombie itu
      soalnya nggak ada evakuasi dll juga sih.
      berasa nonton Train to Busan dalam pov warga yang terjebak sendirian tanpa tahu apa-apa hehe

      Delete
  2. Hi Kak Dea, sepertinya di awal cerita baiknya ditulis warning spoiler 🤣 soalnya siapa tahu ada yang nggak suka dispoiler, bisa langsung ke bagian review aja 🤭

    Anyway, film zombie-zombie seperti ini menegangkan banget! Dan setuju dengan Kak Dea, lebih mending nonton film zombie daripada hantu 🤣🤣 meskipun jele jele mukanya, masih bisa ditoleransi dan lama-lama jadi terbiasa dibanding nonton film horror 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. aah iyaa, bener banget Li.
      nggak semua orang suka spoiler soalnya ya hehe noted 🌻

      hahah iyaaa aku tuh nggak bisa banget deh menoleransi hantu-hantuan 🤣
      kalo zombie kan masih sedikit 'manusiawi' ya dan nggak begitu bikin jantung copot haha

      Delete