Critical Eleven, Pilih Buku atau Film?

by - June 09, 2021

Spoiler alert!


Critical Eleven. Judul novel tulisan Ika Natassa yang diterbitkan tahun 2015 dan difilmkan tahun 2017. Meski termasuk judul lama, saya tertarik untuk membaca karena kemarin baru saja selesai membaca novel terbarunya ‘The Architecture of Love’. Jadi kepo dengan buku lainnya yang belum sempat saya baca πŸ˜†


Buku dan film 'Critical Eleven' ini bercerita tentang sepasang suami istri, Ale dan Anya, yang sedang menantikan buah hati pertama mereka. Anya seorang wanita karir yang mandiri dan Ale seorang engineer yang bekerja di offshore alias si tukang minyak πŸ‘€ 



Saking cintanya Anya dengan pekerjaannya, selama dia hamil pun ia tetap bekerja. Sedangkan Ale bekerja selama 5 minggu di tengah laut, lalu pulang selama 5 minggu pula. Sayangnya, di penghujung penantian mereka berdua, Aidan (nama janin mereka), nggak sempat bertemu melihat kedua orangtuanya. Anya terpaksa dioperasi karena Aidan meninggal dalam kandungan 😭 


Nggak mudah melewati situasi seperti ini bagi pasangan baru yang sudah menantikan kehadiran buah hati mereka. Mereka berkabung dengan cara masing-masing. Hingga suatu hari Ale nggak sengaja mengucapkan hal yang sulit dimaafkan 😰 



Nah, terus apa sih kira-kira beda buku dan filmnya?


Pertemuan di pesawat



Kalau di bukunya, Anya dan Ale duduk di bagian pesawat yang dekat dengan jendela. Anya tertidur selama penerbangan sampai nggak sadar menyandarkan kepalanya di pundak Ale. Dari situlah akhirnya mereka mulai mengobrol πŸ˜‰


Ini beda banget dengan filmnya. Kalau di filmnya, Anya panik mencari benda kecil kesayangan sewaktu pesawat sedikit berguncang. Yang ternyata benda kecil itu ditemukan oleh Ale dan mereka pun mulai mengobrol 😝 


Pindah ke New York


Di bukunya nggak banyak diceritakan semasa mereka pindah ke New York. Karena hanya penjelasan flashback saja. Anya yang ditugaskan bekerja di New York selama 1 tahun bikin Ale senang karena jarak antara Meksiko (tempat kerja Ale) dengan New York jauh lebih dekat daripada Indonesia. Setelah satu tahun, Anya kembali menetap di Indonesia dan beberapa tahun kemudian hamil πŸ₯° 


Kalau di filmnya, Anya diceritakan resign dari pekerjaannya dan memulai hidup di New York setelah menikah. Karena bosan, Anya mencari pekerjaan part-time sebagai konsultan. Nggak lama setelahnya Anya hamil. Karena sebuah insiden dan Ale khawatir meninggalkan Anya sendirian di rumah, mereka memutuskan untuk kembali Indonesia. Meski sebenarnya Anya merasa baik-baik saja 😢 


Kecelakaan Ale


Kejadian ini bisa dikatakan sebagai titik balik hubungan mereka berdua. Di bukunya diceritakan kalau Ale mengalami kecelakaan kecil waktu menemani Nino bermain di mall. Jadi, si Ale kepalanya terbentur palang parkiran yang lagi error gitu. Setelah dibawa ke rumah sakit, Ale menerima 9 jahitan dan bikin Anya panik banget πŸ˜– 


Nah, kalau di filmnya sendiri diceritakan Anya kabur ke Melbourne karena capek banget sama situasi perang dingin di rumah. Ale yang tahu Anya pergi tanpa pamitan langsung pergi mencarinya. Karena menyetir dalam keadaan panik, Ale mengalami kecelakaan mobil dan harus dirawat di rumah sakit 😭 


Karakter ale dan anya 


Yang paling kentara perbedaan antara buku dan filmnya adalah karakter Ale dan Anya. Atau perbedaan ini karena saya waktu baca bukunya emang lagi selow ya? πŸ˜†


Selama baca bukunya, karakter Ale yang ada di kepala saya adalah seorang lelaki yang nggak banyak bicara tapi hangaaaat banget. Apalagi kalau sama Anya. Ale juga karakternya cengegesan gitu deh. Banyak guyonnya. Jadi, di bayangan saya pun Ale ini tipe orang yang cool πŸ₯ΆπŸ˜† 



Terlebih lagi sewaktu Ale diem-dieman sama Anya. Di bukunya diceritain kalau Ale super sabaaar banget nungguin Anya maafin dia. Setiap hari Ale usaha buat ngajak ngobrol Anya meski selalu ditanggapi Anya dengan sangat dingin. Bahkan, Ale setiap pagi bikinin kopi buat Anya meski selalu ditolak. Beda banget deh sama di filmnya yang kelihatan protektif dan temperamen πŸ‘€


Lalu, kalau karakter Anyanya sendiri di bukunya digambarkan kalau Anya sosok yang mandiri dan elegan. Cukup jauh berbeda dengan karakter yang ditampilkan di film. Tapi, ya mungkin memang untuk diadaptasi ke film butuh penyesuaian juga sih. Kalau nulis kan enak tinggal nulis meski ngayal haha 😁



Overall, saya nggak begitu menikmati filmnya. Dan kalau boleh jujur, sorry to say saya hanya bertahan 30 menit di awal. Aslinya udah mau tutup laptop aja sih. Tapi, saya penasaran juga dengan berapa banyak perbedaan antara buku dan filmnya hihi. Jadi, saya sih tetap tim baca buku hehe πŸ’• 


Nah, kalau teman-teman gimana nih? Udah baca dan nonton film Critical Eleven? Teman-teman tim manaaa hayooo?


PS. nggak enaknya kalau baca ebook ya gini nggak bisa foto-foto bukunya huhu. Boro-boro foto, screenshot aja nggak bisa πŸ˜…


You May Also Like

12 comments

  1. Replies
    1. emang bagus kok mbaak
      coba baca bukunya aja atau liat filmnya yg main reza rahadian hehe πŸ˜†

      Delete
  2. Baru ter niat untuk nonton filmnya mba, dan baru sadar juga ternyata ada bukunya setelah kmren lihat2 di Gramedia Digital, ingin baca , tapi ya gitu deh, saya belum betah baca novel versi ebook, hahaha, jadi belum ditonton dan dibaca juga. Karya dari penulis yg sama, yaitu Twivortiare yg kebetulan saya tonton dluan , hehehe,

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama mbak aku pun juga nggak begitu nyaman sebenernya baca ebook πŸ˜…
      tapii karena penasaran jadi aku cobain dan ya nggak bisa lama-lama juga sih hehe
      wah yang Trivortiare aku malah belum lihaaaat
      ntar sih rencananya setelah baca bukunya baru lihat filmnya hehe 😁

      Delete
  3. Aki tim belum baca dan belum nonton film nya. :v

    ReplyDelete
  4. Aki tim belum baca dan belum nonton film nya. :v

    ReplyDelete
  5. Aku suka baca bukunya. Feelnya lebih kerasa. Lebih bisa memposisikan diri jadi Anya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. beneer aku pun jugaa lebih suka bukunya mbak hehe
      waah mbak menjiwai sekali yaa 😁

      Delete
  6. Aku udah baca dua-duanya, Kak. Dan suka dua-duanya juga. πŸ˜†

    Jujur, kalau masalah cerita aku lebih suka novelnya. Pas baca novelnya, aku sampe baper dan mbrebes mili. Sementara pas nonton film nya, aku lempeng-lempeng aja πŸ˜…. Tapi aku tetep suka film nya sih. Soalnya yang main Reza Rahadian. Ganteng. 🀣🀣🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi aku juga mellow banget pas baca bukunya dan lempeng sewaktu liat filmnya
      eh tapi ada nangis sih di tengah bentar doang hehe 😁
      hahahahaha iya kalo Reza yang main mah emang bikin suka jadinya ya

      Delete
  7. Critical Eleven salah satu karya Ika Natasaa yg menjadi favoritku, Mba Deaa. Baik novel dan filmnya kusuka sekali ❤️ novelnya sendiri kubaca berulang kali sampe covernya lecek banget hahahaha. Sayangnya, setelah CE, film adaptasi Ika Natassa berikutnya malah nggak terlalu bagus. Bosen banget huhu. Si film CE ini malah cukup sukses menurutku karena eksekusinya keren dan matang. Scene di New York cantik sekaliii.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaaah emang lebih enak punya buku fisik ya bisa ketahuan kalo dibaca berulang-ulang karena keliatan lecek 😁
      aku malam belum lihat film setelah Critical Eleven ini hehe
      setuju mbak Janeeeee. aku juga suka banget scene di New York πŸ’•

      Delete