Travel

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Blogger Perempuan
Intellifluence Trusted Blogger

Banner Bloggercrony

[Review] Novel Tempurung, Kisah Perempuan dengan Tubuhnya

24 comments


Judul : Tempurung

Penulis         : Oka Rusmini

Penerbit         : Grasindo

Tahun terbit : 2017

Halaman         : 404 halaman


Sinopsis


Tempurung adalah sebuah novel tentang hidup para perempuan berhadapan dengan tubuhnya, agama, budaa, dan masyarakat. Cerita ini mengisahkan perempuan-perempuan yang hidup di dunia perkawinan yang absurd. Jauh di lubuk hati mereka tidak menginginkan perkawinan, tetapi di sisi lain mereka butuh anak, kasih sayang, perhatian, dan sentuhan. 


Perempuan-perempuan yang mencari cinta, kasih sayang, impian, bahkan mereka sendiri tidak tahu keinginan mereka, apa yang mereka mau, dan kadang mereka juga takut bermimpi. 


Inilah novel tentang tubuh perempuan yang sesungguhnya tidak jadi milik mereka sendiri. Bahkan sering kali mereka juga gagap berhadapan dengan tubuh sendiri. Tubuh yang kadang tidak mereka kenal. Inilah kisah perempuan-perempuan yang tidak tahu apakah menjadi perempuan adalah sebuah anugerah atau justru kutukan. 


Gimana novel ini?


Awalnya saya bingung banget dengan penokohan di novel ini. Karena memang nggak ada tokoh utama. Yang jelas, novel ini menceritakan kisah para perempuan yang saling berkesinambungan dengan peran masing-masing. Ibu, istri, anak, saudara. 


Novel ini menceritakan bagaimana adat perempuan Indonesia yang cukup vulgar. Bagaimana seorang ayah begitu tega memperkosa anaknya, dan bagaimana hal ini menyebabkan trauma dan kebencian yang begitu mendalam pada lelaki. Terutama ayahnya hingga ada keinginan untuk membunuh. 


Ada pula seorang anak perempuan yang ‘dijual’ keluarganya kepada lelaki kaya dengan harapan keluarga mereka akan ikutan kaya. Dalam hal ini, perempuan akan disalahkan dan mendapatkan label ‘pembawa sial’ kalau setelah perkawinan itu justru membawa keluarga dalam kondisi sebaliknya. 


Baca juga: Married With Ex-Idol, Pernikahan dengan Idol yang Nggak Mudah


Cerita lainnya, ada pula ibu yang mengingatkan anaknya untuk tidak hanya setia pada satu laki-laki karena tubuhnya menjadi investasi mereka untuk menyelamatkan hidup. Pernah membayangkan bagaimana bisa seorang ibu berbicara seperti itu kepada anak perempuannya?


Anak laki-laki seolah menjadi primadona dalam keluarga. Seorang ibu bahkan menelantarkan semua anak perempuannya dan hanya memedulikan anak lelakinya saja. Karena, suami juga berkehendak seperti itu. Lalu, suatu ketika sang ibu stres dan meninggal. Suaminya pun dengan suka cita ‘membagikan’ anaknya kepada siapa saja yang mau merawat mereka. Manusiawi? Nggak. Ada di dunia nyata? Sepertinya iya. 


Membaca  novel ini membuat saya bertanya banyak hal perihal kemanusiaan. Salah satunya ada dialog antar lelaki yang sama-sama suka ‘jajan’. 



“Kalau perkawinanmu bahagia, jangan sampai membawa pulang bekas makananmu di jalan ke rumah pulang. Buang. Cuci bersih tanganmu sebersih-bersihnya. Di depan anak istrimu, kau harus tetap kepala keluarga yang suci dan bertanggung jawab. Kau manusia baik. Lelaki hebat. Ayah bertanggung jawab. Suami setia. Makanya, cuci dirimu bersih-bersih. Kau boleh menjadi binatang di tempat tidur perempuan lain.” 


Dialog ini membuat saya marah sekaligus bertanya-tanya. Bagaimana bisa seseorang selingkuh kalau orang tersebut bahagia dengan keluarganya? Betapa manusia bisa menjadi sangat serakah. 


Novel ini memang menceritakan banyak kisah rumah tangga dengan begitu nyata. Memang tampak menakutkan, tapi begitulah adanya. Membaca novel ini membuat saya sadar bahwa begitu rumit untuk menjadi seorang perempuan. 


Di satu sisi saya merasa bahagia, tetapi di satu sisi lainnya saya juga merasa was-was. Sejujurnya, dewasa ini saya jadi cukup takut untuk bepergian terlebih sendirian. Karena bagaimanapun saya menjaga diri, saya nggak bisa mengontrol pikiran orang lain. 



Overall, novel ini rekomen banget buat dibaca. Meski ceritanya tentang perempuan, buku ini juga sangaaaatttt direkomendasikan untuk laki-laki. Mungkin dengan begitu beberapa laki-laki akan sadar kecemasan yang dihadapi perempuan. 


Gaya bahasa novel ini cukup ringan dan mudah dipahami. Plotnya juga menarik. Tetapi, terkadang saya cukup bingung karena banyak cerita dari setiap tokoh yang berbeda-beda. Tetapi, ini nggak mengurangi pesan dari setiap cerita. 


Latar Bali membuat saya sedikit bingung membaca novel ini karena nggak familiar hehe. Terutama dengan namanya. Jadi kadang saya sering lupa. Maklum, jarang-jarang saya baca novel yang latarnya di luar jawa. Tapi ini menarik. Saya jadi ingin baca banyak novel dengan latar berbeda. Teman- teman da rekomendasi? 😆


deamerina
Hai! Selamat datang di blog saya. Silahkan menyelami kegiatan yang saya lakuakn yang berhubungan dengan menulis dan fotografi hihi

Related Posts

24 comments

  1. mungkin di zaman dahulu menjadi perempuan lebih sulit karena adanya ketimpangan kesempatan pendidikan, ekonomi, dll yang lebih besar.. Tapi kalo menurut gue, saat ini menjadi pria dan wanita sama sulitnya dengan tantangan yang berbeda sesuai dengan gendernya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa di beberapa tempat alhamdulillah udah setara, tapi bener juga dengan tantangan yang berbeda
      tp sedih juga di beberapa tempat, terutama yang masih di desa-desa hal-hal kayak gini masih terjadi :(

      Delete
  2. Ada novel bagus mba berlatar Madura judulnya Damar Kambang yang isinya menyingkap tirai kusam tradisi pernikahan di Madura. Disana nikah dini udah jd tradisi dan ngeri sekali saya mendengarnya dari teman asli sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaah, kayaknya menarik
      aku pun pernah dengar cerita tentang pernikahan madura tapi nggak tahu kalau sampe se ngeri itu hehe
      okeoke bakalan aku coba cariii
      thank you rekomendasinyaaa

      Delete
  3. Kalau baca reviewnya, kayaknya novel ini cukup triggering untuk aku. Apalagi belakangan ini banyak sekali berita tentang kekerasan terhadap perempuan yang betul-betul sadis.. Novel Tempurung ini mungkin menangkap fenomena tersebut ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah bisa jadi mbak
      iya belakangan aku juga sedih banget baca banyak berita KS yang serem-serem
      aku pun jadi makin was-was kalo pergi-pergi

      Delete
  4. bacanya serem ya tapi itulah kenyataannya, waktu saya hamilpun ada temen perempuan saya yang bilang, semoga anaknya laki laki bukan perempuan, lah kenapa kalau anaknya perempuan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiks iya mbak. semoga aja nggak ke depannya nggak ada lagi perbedaan antara tiap anak perempuan dan laki-laki dalam stigma masyarakat 🌻

      Delete
  5. Waduh ngeri juga sih jadi perempuan kayanya. Menjadi pihak yang tersudutkan banget yah. Yang diperkosa bapaknya, yang dijual keluarganya. Makanya muncul feminisme yang memperjuangkan kesetaraan gender ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener banget mbak. mungkin itu juga yang jadi banyaknya yang menuntut kesetaraan gender

      Delete
  6. Ngeri juga, jadi pengen full baca novelnya

    ReplyDelete
  7. justru penggunaan latar etnik yang akan menambah wawasan budaya lokal kita sendiri. saya pernah baca buku latarnya banyak bahasa batak, sampai saya tanya ke teman karena gak paham.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa aku pun jadi tahu sedikit tentang budaya Bali 😁

      Delete
  8. Sangat menyentuh, dan sebenarnya realitanya juga beberapa terjadi di negara Konoha ini.
    Ya, sudah sepatutnya negara Konoha ini memiliki cara pandang baru, yang lebih layak tentang peran perempuan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setujuuuu.semoga aja suatu saat banyak orang lebih memahami dan menghargai peran perempuan 😁

      Delete
  9. Kadang dalam hal komunikasi, laki-laki harus sangat sabar dalam belajar memahami 'bahasa' perempuan. Mungkin novel ini bisa jadi penjembatan agar laki-laki bisa belajar memahami dan menghargai, seperti apa sosok perempuan dengan segala keunikannya

    ReplyDelete
  10. "anak perempuan yang dijual" ngeri kali. Semoga kita terlindung dari hal hal negatif

    ReplyDelete
  11. Seru banget kayaknya mbak novelnya, bagus buat laki-laki juga ya, sebenarnya anak laki-laki juga perlu edukasi bagaimana memperlakukan wanita dengan baik.

    ReplyDelete
  12. Baca reviewnya aja udah ngilu. Tapi sepertinya realita sih beberapa cuplikan percakapan di tulisan ini. Saya sampai bingung mau ngomong apa. Hehe. Bagus rekomendasi bukunya. Semoga kedepannya masalah kesetaraan gender dan isu2 yang menyudutkan perempuan bisa ditekan sampai dihilangkan. Aamiin.

    ReplyDelete
  13. wah saya suka banget baca-baca novel yang berkaitan bahasannya lebih banyak perempuan. apalagi berlatar belakang Bali yang kondisi budayanya kental banget. penasaran pengen baca kalau baca dari potongan cuplikannya.

    ReplyDelete
  14. Baca review Kak Dea aku jadi capek sendiri karena langsung kebayang lelahnya jadi kaum hawa itu gak main-main. Tapi jadi kepengin baca nih. Kayaknya buku bertema “perempuan” lagi banyak jadi bahan perbincangan ya.

    Kalo rekomendasi serupa kayaknya kk bisa baca Perempuan yang menangis kepada bulan hitam ttg adat kawin tangkap di Sumba (ini aku belum baca) tapi katanya bagus juga , terus Silsilah duka juga oke kak 😁 atau kalau mau tau dari latar negara berbeda bisa baca Perempuan di titik nol...duh ini juga 💔

    ReplyDelete
  15. sepertinya buku ini penting untuk saya yg belum memahami betul tentang wanita, :D

    ReplyDelete
  16. Padahal baru diceritain sedikit tapi kok sudah emosi. Apalagi yg part selingkuh itu jadi agak takut sendiri huhuhu. Para lelaki wajib baca juga sepertinya biar paham jadi perempuan itu tidaklah mudah. Terimakasih reviewnya mbk Dea.

    ReplyDelete

Post a Comment