Travel

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Blogger Perempuan
Intellifluence Trusted Blogger

Banner Bloggercrony

[Review Novel] Dalam Mihrab Cinta - Mahkota Cinta (2)

Post a Comment

review novel dalam mihrab cinta


Judul : Dalam Mihrab Cinta

Penulis         : Habiburrahman El Shirazy

Genre : Fiksi - Romance

Penerbit         : Republika

Tahun terbit : September 2020

Shopee            : Republika Penerbit


Spoiler Alert!


Setelah sekuel review Dalam Mihrab Cinta, selanjutnya adalah cerita ketiga di buku ini, Mahkota Cinta. Cerita yang terkahir ini cukup menarik dan lebih banyak membahas perjuangan seorang perantau yang berusaha mengubah takdir di Malaysia.


Sekilas Tentang Novel Ini...

Review Novel Dalam Mihrab Cinta - mahkota cinta

Zul, seorang pemuda yang memilih untuk hijrah ke Malaysia untuk mengubah takdirnya. Hanya berbekal nama kenalan yang ia dapatkan dari Pak Hasan, ia nekat pergi. 


Baginya sudah seluruh hidupnya ia jalani dengan kenekatan semenjak Pakde yang sudah dianggapnya sebagai ayah kandungnya sendiri itu meninggal. Jakarta, Semarang, Batam, semuanya telah ia taklukan. Bahkan pernah ia dikeroyok preman di terminal Jakarta dan buktinya ia masih hidup. 


Dalam perjalanan tersebut, Zul bertemu dengan Mari. Seorang TKW yang juga berasal dari Indonesia. Melihat Zul tidak memiliki kenalan di Malaysia, Mari akhirnya menampung Zul sementara di kontrakannya sampai Zul dapat menghubungi Pak Rusli. 


Di kontrakan itu Mari tidak tinggal sendiri. Ia tinggal bersama 4 wanita lainnya yang juga sama-sama bekerja. Di kontrakan tersebut Zul diterima dengan hangat. Namun, salah seorang di antara mereka membuat Zul merasa nggak nyaman berada di rumah itu. 


Saat semua orang pergi untuk bekerja dan di rumah tersebut hanya ada Linda dan Zul, Zul memutuskan untuk kembali menghubungi Pak Rusli di wartel terdekat. Setelah beberapa kali, akhirnya Zul tersambung dengan Pak Rusli dan mereka bertemu. 


Pak Rusli menjemput Zul dan segera mengantar Zul ke tempat mahasiswa Indonesia kenalannya tinggal. Sesampainya di flat, Zul berkenalan dengan 5 orang lainnya yang sedang menjalankan studi S2 dan S3. Di antara mereka ada yang sudah bekeluarga dan ada juga yang masih single. 


Bisa dikatakan dalam flat itu Zul bertemu dengan orang berpendidikan dan tulus. Masing-masing dari mereka ingin membantu Zul semampu mereka. Ada yang bersedia mencarikan informasi mengurus berkas, ada yang bersedia mencarikan pekerjaan, dan lain-lainnya. 


Setelah mantap akan melanjutkan studi S2 jurusan sosiologi pendidikan di Universiti Malaysia, Zul memutuskan untuk pindah ke flat tersebut bersama 5 teman barunya. Sejak hari itu ia tinggal di flat tersebut tanpa mengambil barangnya di kontrakan Mari. Barangnya bisa ia ambil lain waktu saat semua urusan beres. Malam itu, untuk pertama kalinya Zul bisa tidur dengan dada lapang. 


Setelah berjuang mengirim berkas dan bekerja untuk membayar biaya kuliah, Zul akhirnya diterima di Universiti Malaysia. Ia pun mulai disibukkan dengan kuliah dan bekerja. 


Tanpa terasa Zul telah melewati satu semester dengan penuh perjuangan. Suatu pagi ia merasa harus mengambil barangnya yang ia tinggalkan di kontrakan Mari. begitu tiba di kontrakan Mari, Zul dikagetkan dengan seorang lelaki yang akan berniat melecehkan pada Mari. 


Zul menolong Mari dari lelaki yang ternyata adalah mantan suami Mari yang telah bebas dari penjara. Zul pun berkelahi dengan lelaki itu hingga barang-barang di rumah pecah berantakan. 


Berbekal ilmu bela diri dan segala kegeraman Zul, lelaki itu kalah telak. Bahkan, Zul mematahkan jari-jarinya. Kalau saja bukan karena Mari, Zul sudah membunuh lelaki yang tidak beradab itu. 


Mari pun menangis berterima kasih pada Zul. Ia merasa berhutang budi pada Zul dan rela memberikan apa saja selama permintaannya tidak mengandung dosa. Namun, Zul hanya ingin Mari tetap menjaga kesuciannya. 


Sejak saat itulah Zul mulai memikirkan Mari. Ia merasa kagum dengan cara Mari menjaga diri. Zul pun merasa gelisah hingga mengganggu semua kegiatannya. Teman-teman satu flatnya merasakan hal tersebut. Terutama Pak Muslim yang merasa Zul menjadi pemalas akan membuat suasana rumah tersebut nggak nyaman. 


Lalu, apa yang akan dilakukan Zul? Akankah Zul terus bersikap seperti itu dan terpaksa tidak melanjutkan kuliah yang diawali penuh perjuangan? Atau, ia justru akan berhenti kuliah dan memilih menikahi Mari?


Setelah baca novel ini….


Saya banyak sekali mendapatkan pelajaran di novel ini. Beberapa keresahan juga turut menghantui hidup saya. Ada beberapa poin yang saya rasa ingin disampaikan oleh penulis, Habiburrahman El Shirazy, 


Dukungan lingkungan yang suportif

Review Novel Dalam Mihrab Cinta - mahkota cinta

Saya terharu dengan cerita Zul yang bisa menemukan lingkungan yang mendukung di Malaysia. Bertemu lima orang yang baik dan sangat suportif. Mau membantunya untuk mengurus kuliah dan juga mencarikan pekerjaan. Bahkan, Pak Muslim mau meminjamkan Zul untuk membeli motor agar lebih mudah ke tempat kuliah dan tempat kerja. 


Lingkungan memang penting banget untuk mendukung tujuan kita. Ini yang seringkali susah untuk ditemukan. Seringkali kita merasa sendiri karena nggak kunjung menemukan lingkungan yang tepat. Boro-boro supportif, eh yang ada malah saling menjatuhkan. Aduh. makin terpuruk jadinya. 


--

Baca juga: [Review Novel] Cinta Suci Zahrana - Habiburrahman El Shirazy

--


Ketegasan Pak Muslim juga membuktikan kepeduliannya. Waktu Zul mulai malas-malasana karena galau memikirkan Mari dan Pak Muslim khawatir teman-teman yang lainnya akan ikut nggak semangat. Pak Muslim dengan tegas mengingatkan Zul untuk menentukan pilihannya. 


Gigih dalam mengubah takdir


Kita memang nggak akan pernah tahu bagaimana takdir kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha semampu kita. Urusan takdir berubah atau nggak memang Allah yang nentuin. 


Kegigihan Zul juga bikin saya banyak berkaca dengan hidup saya sendiri. Saya yang masih sering malas-malasan ini bisa-bisanya mengeluh hidup yang begini-begini saja. Jadi malu hehe. 🙂


Zul dan yang lainnya rela bekerja apa saja demi menyambung hidup di Malaysia. Demi dapat menyelsaikan kuliah dan segera mendapatkan kehidupan yang lebih baik. 


Awalnya Zul menjadikan semua pekerjaannya adalah beban. Berbeda dengan Yahya yang justru menikmati setiap pekerjaannya. Hal itulah yang menjadikannya dengan ringan menghadapi hari demi hari. 


Apakah memiliki gelar tinggi dapat menjanjikan kehidupan layak?

Review Novel Dalam Mihrab Cinta - mahkota cinta

Sayangnya, ada dilema tersendiri yang saya rasa ingin disampaikan oleh penulis. Yaitu, apakah setelah mendapatkan gelar yang tinggi, bahkan doktor sekalipun, dapat menjamin kita memiliki kehidupan yang lebih baik. 


Itulah yang dipikirkan oleh Zul. Di salah satu tempatnya bekerja, ia adalah satu-satunya mahasiswa yang sedang mengejar gelas master dan bekerja mencuci piring. Sedangkan rekan kerjanya paling tinggi hanyalah lulusan SMA. Bahkan bosnya hanyalah lulusan SD. 


Apakah saat ia ingin melanjutkan studi S3 nya dia tetap harus bekerja setiap waktu tanpa jeda dengan pekerjaan yang sama? Mencuci piring, menjaga toko, dan lainnya? Hidup bagai sapi perah. 

Review Novel Dalam Mihrab Cinta - mahkota cinta

Ada kekhawatiran cara bertahan hidup saat ia akan kembali ke Indonesia. Apakah ia akan menganggur? Karena pada kenyataannya banyak orang dengan gelar panjang yang menganggur. 


Salah satu kata-kata yang menusuk hati adalah kata-kata yang diucapkan oleh doktor Nyatman, salah seorang kenalan Zul yang tidak diterima di berbagai universitas di Indonesia. 


“Di Indonesia penjilat dan penjahat lebih dihargai daripada ilmuwan dan pahlawan”


Hal ini saya rasa cukup benar karena budaya nepotisme di negara ini masih sangat kental dan mengakar. Walaupun bisa jadi di negara lain juga mengalami krisis yang sama. 


Kalau kata anak jaman sekarang sih, kekuatan orang dalam. 


Sedihnya, hal ini memang nyata. Ada beberapa teman saya yang seperti ini. Berkat koneksi orang tuanya, ia bisa bekerja dengan nyaman. Padahal, ada orang lain yang lebih berprestasi dan berhak mendapatkan pekerjaan itu. Jujur saya sedih, kecewa, dan juga merasa nggak adil dengan hal seperti ini. 


Quarter life crisis


Review Novel Dalam Mihrab Cinta - mahkota cinta

Hhhhh, cerita ini bikin saya merenungi kehidupan saya. Saya rasa, Zul juga mengalami quarter life crisis dalam cerita ini. Teman-temannya yang satu flat dengannya sudah menikah semua dan Pak Muslim juga sudah kembali ke mengajar di Yogyakarta. 


--

Baca juga: [Review Novel] Pudarnya Pesona Cleopatra - Habiburrahman El Shirazy

--

Ia galau dengan pilihan yang akan diambilnya. Mau menikah, tapi menikah dengan siapa? Siapa yang mau dengannya yang belum memiliki pekerjaan tetap? Kalau pun lanjut kuliah S3, apakah ia akan bertahan hidup dengan cara yang seperti ini? Seperti sapi perah?


Kegalauan seperti ini memang sering kita rasakan saat ada tujuan yang sedikit lagi tercapai. Selalu bertanya pada diri, apa selanjutnya? Mungkin ini juga yang banyak dirasakan anak muda jaman sekarang. Di usia yang nggak lagi muda dan menginjak dewasa, setiap pilihan hidup seolah membuat kita bingung. Karena tak memiliki jawaban pasti akan setiap pilihan. 


Overall…


Cerita ini menarik banget untuk dibaca. Terutama buat teman-teman yang lagi galau, mungkin bisa baca biar tambah galau haha. Canda. Seperti biasa, Kang Abik selalu membahasakan setiap permasalah dengan menarik dan diselipi pilihan solusi yang bisa diambil. 


Plotnya juga menarik. Sepertinya Kang Abik sering sekali menulis mengenai tokoh yang sedang melanjutkan pendidikannya. Saya senang. Karena dengan membacanya saya sendiri merasa ingin lanjut kuliah lagi hehe. Semoga masih ada kesempatan. 


Keresahan Kang Abik mengenai nepotisme juga bikin saya bertanya-tanya. Kapan ya ada keadilan di negara ini? Rasanya aneh kita punya sila ‘Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia’ tapi pada kenyatannya itu nggak memiliki makna apapun dalam kehidupan sehari-hari. 


Kesenjangan sosial yang tinggi. Pangkat yang seolah menjadi tolak ukur kehormatan seseorang. Saya sebal dengan perlakuan khusus yang diberikan pada polisi atau pun angkatan. 


Saya ada seidkit cerita,


Waktu itu saya sedang membeli kursi kerja di salah satu mall Surabaya. Saat GrabCar tiba di lobby, saya langsung memasukkan kursi di bagasi mobil dibantu dengan driver. Baru saja kursi bisa masuk, satpam sudah menegur kami untuk segera bergegas karena ada rombongan angkatan yang akan lewat. 


Di situlah driver GrabCar marah-marah merasa nggak adil. Padahal kami juga nggak lama, bahkan ini kursi baru juga masuk astaga. Saya di situ kan juga pelanggan yang harus dihargai. Saya kesal bukan main dengan perlakukan satpam tersebut. 


Hal-hal kayak gini yang bikin saya antipati dengan angkatan dan polisi. Duh! Semoga aja segera berubah lebih baik. 


Intinya sih novel Kang Abik ini bagus. Saya nggak tahu deh ini bakalan ada novel versi panjangnya atau hanya ada di buku Dalam Mihrab Cinta ini. Yuk, teman-teman baca novel ini.


deamerina
Hai! Selamat datang di blog saya. Silahkan menyelami kegiatan yang saya lakuakn yang berhubungan dengan menulis dan fotografi hihi

Related Posts

Post a Comment